4 November 2012

Cahaya, kamu ini siapa?

Cerita Pendek


Gelas kedua berisikan kopi, memiliki rasa manis dan mengecap dibibir. Aku berharap kamu seperti kopi itu, meski angin mengubahnya menjadi dingin. 


Disaat pandangan kelabu, aku terdampar di bumi. Tak ingin lagi rasanya menyambut semesta. Semuanya lumpuh, hingga perjalananku terasa semu. Entah pikiranku terganggu atau hati yang sedang koyak, aku juga tak mengerti. Yang pasti, aku terpukul oleh namanya cinta. Hey, itu menyakitkan! Sungguh menyakitkan.



Perlahan-lahan aku mencoba berdiri, bersama bayangannya yang menari dipikiranku. Memukul aku, memukul aku hingga mengecapkan luka dan membekas di hati. Namun ketika aku tidak berdaya, aku dikejutkan oleh satu sorotan cahaya dari semesta. Cahaya itu sungguh menyilaukan mataku. Ia menyadarkanku, bahwa cinta sejati masih ada. Ia mengangkat kepalaku untuk melihat cakrawala yang begitu indah. Burung-burung kerkicauan. Pohon-pohon melambai diterpa angin yang begitu kencang. Hewan-hewan mulai menyusui bahkan ada juga yang sudah tertidur pulas menanti datangnya hari esok.


"Sungguh indah sekali dunia ini", aku berseru kepada Tuhan.

Pada akhirnya, semoga hanya kamu yang menjadi satu-satunya cahaya terakhir dalam hidupku ini. Cahaya yang memberikan warna pada lukisan kita berdua nanti, suatu saat atau mungkin besok.

Dan aku mampu berseru kepada dunia, 

"Aku bangga memiliki cahaya itu...".


Karawaci, 2012.

9 January 2012

Ups, Salah

Cerita Pendek


Liburan bersama keluarga sudah menjadi rutinitas kami setiap tahunnya. Sesibuknya kami, kami tetap menyempatkan diri untuk berlibur.

Tujuh Januari tahun dua ribu tiga belas, aku bersama keluargaku memutuskan untuk meninggalkan kota Bandung sebagai tempat liburan kami setelah tiga hari di sana. Tahun ini, kami memang sengaja memilih tempat liburan tidak ke luar negeri. Menghindari cuaca buruk dan juga kondisi kesehatan kami yang kurang membaik.

Tepat jam sebelas malam, terbangun aku dari mimipi lelahku. Aku meminta Pak Ismet, supirku, untuk berhenti sejenak di rest area kilometer sembilan puluh tujuh Cipularang. Rasa gelisah mulai menyebar ke seluruh tubuhku. Aku benar-benar tidak sanggup lagi menahan buang air kecil jika harus di rumahku sendiri.

Sesampainya di rest area, kami memutuskan untuk berpisah. Ayahku sudah lebih dulu diturunkan oleh Pak Ismet dekat dengan kamar mandi saat kami sibuk mencari parkiran. Sedangkan, ibuku langsung bergegas menuju tempat kopi sambil membawa tas merah kesayangannya yang sudah peot akibat tertimpa badanku saat tidur tadi. 

Aku berlari terseok-seok menuju kamar mandi yang berjarak tiga ratus meter dari tempat parkir mobilku. Langkah kakiku terasa berat karena lorong jalanan dipenuhi orang-orang yang sibuk mencari buah tangan. Belum lagi, anak kecil berlarian dan merengek ke orang tuanya untuk meminta balon motif polkadot berwarna merah putih. Napasku sudah tesenggal-senggal. Tetapi orang-orang sama sekali tidak peduli.

"Ini ada orang gak sih? Cepetan dong saya kebelet", kataku saat tiba di toilet.

Rasa tenang berubah jadi amarah. Hanya ada satu toilet yang bisa dipergunakan. Lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Pintu tetap tidak kunjung terbuka. Sungguh, lama sekali. Ini seperti menunggu cinta sejati. Butuh kesabaran yang tinggi untuk mendapatkan yang terbaik.

"Ah, sudahlah! Hari yang sial", kataku.

Aku bergumam dalam hati. Napasku mulai tenang, tetapi masih dalam dan sesak. Pintu itu terasa berat. Dengan sisa-sisa terakhir tenagaku, aku mencoba mendorongnya. Bunyi logam beradu, diseling derik engsel berkarat mengganggu pandanganku.


***
Krek.

Pintu toilet perlahan terbuka.

Krek,

Mataku melotot melihat orang yang baru saja keluar dari balik pintu yang sudah sedikit berkarat. Mulutku terbata-bata tidak karuan. Satu dua tetes liur berjatuhan. Aku berusaha menyembunyikan rasa malu dalam-dalam, tetapi tetap saja tidak mau hilang.


"Ngapain disini?", tanyaku.


"Buang air besar", jawabnya.



Ia merespon pertanyaanku seolah tidak ada yang salah. Orang disekitarku menertawakan obrolan kami berdua. Tidak peduli dengan waktu mereka yang semakin lama menunggu gilirannya. Saat itu juga, aku menarik tangannya untuk menunjukan keterangan yang tertera di pintu masuk toilet. Ia tertawa. Masih seperti tidak bersalah.


TOILET WANITA, PAK!