Cerita Pendek
Gelas kedua berisikan kopi, memiliki rasa manis dan mengecap dibibir. Aku berharap kamu seperti kopi itu, meski angin mengubahnya menjadi dingin.
Disaat pandangan kelabu, aku
terdampar di bumi. Tak ingin lagi rasanya menyambut semesta. Semuanya lumpuh,
hingga perjalananku terasa semu. Entah pikiranku terganggu atau hati yang sedang koyak,
aku juga tak mengerti. Yang pasti, aku terpukul oleh namanya cinta. Hey, itu
menyakitkan! Sungguh menyakitkan.
Perlahan-lahan aku mencoba
berdiri, bersama bayangannya yang menari dipikiranku. Memukul aku, memukul aku
hingga mengecapkan luka dan membekas di hati. Namun ketika aku tidak berdaya, aku
dikejutkan oleh satu sorotan cahaya dari semesta. Cahaya itu sungguh menyilaukan mataku. Ia menyadarkanku, bahwa cinta
sejati masih ada. Ia mengangkat kepalaku untuk melihat cakrawala yang begitu indah. Burung-burung kerkicauan. Pohon-pohon melambai diterpa angin yang begitu kencang. Hewan-hewan mulai menyusui bahkan ada juga yang sudah tertidur pulas menanti datangnya hari esok.
"Sungguh indah sekali dunia ini",
aku berseru kepada Tuhan.
Pada akhirnya, semoga hanya kamu
yang menjadi satu-satunya cahaya terakhir dalam hidupku ini. Cahaya yang
memberikan warna pada lukisan kita berdua nanti, suatu saat atau mungkin besok.
Dan aku mampu berseru kepada
dunia,
"Aku bangga memiliki cahaya itu...".
Karawaci, 2012.