29 January 2014

Monyet dan Pisang. Kau sebagai apa?


 Cerita Pendek 



Cinta itu seperti Pisang dan Monyet. Kau akan tahu apa maksud dua kata itu nantinya.


***
Di bawah pohon yang rindang, di temani secangkir kopi, aku melihat sosok lakilaki menggenggam sebuah pisang. Ia mulai mengupas kulit pisang itu satu persatu. Matanya melotot menatap daging pisang yang mulai terlihat. Semakin penasaran, ia melanjutkan kupasan kedua dan seterusnya hingga pada kupasan terakhir. Wajahnya tersenyum sinis bersama lidahnya yang tak sabar untuk menjilat. Kedua tangannya mulai meraba daging pisang itu. Melihat warnanya, bentuk yang berliku, hingga menikmati rasa klimaks. “Ah... lega....”, katanya. Kemudian ia meninggalkan kulit pisang itu di tempat duduknya, lalu pergi.

Pagi ini, aku melihat ia kembali memilih pisang. Tangannya ligat sekali. Meraba satu persatu pisang yang digantung rapih. Banyak jenis dan bentuk yang ia lihat. Tapi hanya satu pisang yang dipilihnya. Yakni; kulit mulus, daging tebal, dan berliku sempurna. Lantas, ia membawa pulang pisang itu untuk menjadi santapannya kembali. Seperti biasa, kulitnya di buang begitu saja. Lalu pergi.

Aku menoleh ke arah sisa pisang yang masih digantung rapih. Ku dengar seperti ada suara tangisan yang mengiang di kupingku. Mereka ingin berontak, namun tak bisa. Selalu termakan omongan manis lelaki itu. “Sudah dipegang, ditinggalkan lagi. Hanya pasrah menunggu di pilih karena ikhlas atau di pungut karena kasihan”, katanya.
Lekasku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku ternganga melihat ibu sibuk membersihkan pisang di dapur. Di balik punggung ibu, ku perhatikan tangan ibu yang gemulai membersihkan pisang itu. Badannya yang seksi mengingatkanku pada pilihan lelaki tadi. Ah lucu. Dasar laki-laki, maunya yang sempurna. 

“Kenapa pisangnya gak dimakan, bu?”, kataku membisik.

Ibu pun terkejut mendengar suaraku dari arah belakang punggungnya. Ia hanya terdiam dan langsung membalikan tubuhnya ke arahku lalu mengusap rambutku satu persatu. Tak lama, ibu mengajakku duduk bersama di ruang tamu yang hanya berukuran tiga kali tiga meter. Sementara, pisang itu diletakkan begitu saja di dapur, tersusun rapih.

Ruangan begitu sunyi, hanya terdengar detak jarum jam yang berbunyi konstan. Kutatap bibir ibu yang tipis mulai sedikit gemetar. Matanya yang tajam mulai berbinar. Sudah tiga puluh menit aku menunggu. Tapi ibu belum juga menjawab.

“Bu..”, kataku mencairkan suasana yang sedikit tegang. 

“Kenapa kamu gak ambil pisang yang ibu rapihkan tadi, nak?”, ibu pun membuka suara. Sepertinya ibu paham dengan pikiranku saat ini. Pikiran anak kecil yang hanya bisa bertanya dan membutuhkan jawaban. Aku pun menggelengkan kepala sambil tersenyum kaku menatap wajah ibu yang begitu datar. Ingin rasanya aku berlari dari hadapan ibu. Tak ingin ditanya. Hanya butuh jawaban, atas pertanyaan yang ada di benakku saat ini.

“Coba kamu perhatikan pisang itu, nak. Pisang itu banyak jenis dan bentuknya. Semua orang bisa menikmatinya. Tinggal kulitnya dibuka, lalu dagingnya di makan. Tapi sungguh disayangkan, hanya bisa sekali dirasakan. Harus mencari pisang yang baru untuk menjadi santapan berikutnya. Seperti habis manis sepah dibuang”, ucap ibu kepadaku.

"Ibu gak ingin kamu seperti pisang. Bahkan, rela melecehkan pisang lain hanya untuk jadi santapannya. Ingat! tubuhmu indah bukan untuk jadi santapan bagi para monyet. Kamu harus bisa jaga diri. Mana ada monyet yang gak suka dikasih pisang, nak!”, lanjut ibu dengan suara yang tegas dan matanya melotot ke arahku.

“Lalu, kenapa ibu tidak memakan pisang itu?”, tanyaku kembali. 

Ibu pun menundukan kepalanya mendengar pertanyaan yang barusan kulontarkan. Wajah ibu semakin memerah. Seakan ada sesuatu yang ibu kubur dalam-dalam. 


"Jika ibu memakannya, sama saja melecehkan diri sendiri”, tungkas ibu.

Kini, ibu tak bisa lagi menahan air matanya. Suaranya mulai tersendak. Merintih menahan batin yang selama ini terpendam. Segera aku memeluk ibu. Membalut ciuman dipipinya yang basah akan air mata. Suara tangisan ibu semakin keras hingga mengisi ruangan kami berdua.

“Ibu kenapa?”, tanyaku dengan suara yang juga ikut merintih karena tak kuat mendengar tangisan ibu yang semakin mengeras.

Ibu hanya teringat dengan sosok ayahmu. Tapi entahlah, semua hanya menjadi angan semata. Wajahnya yang rupawan hanya sebatas lukisan saja. Indah untuk di pandang, tapi sulit untuk menebak. Hanya si pelukis atau sesama pelukisnya saja yang tahu. Tapi bagaimanapun itu ayahmu, nak. Kamu tidak boleh membenci ayahmu sendiri. Ia tetap menjadi ayahmu. Menjadi masa depan kamu saat kamu akan menikah nanti”, sahut ibu mendekapku kencang seolah tak ingin aku merasakan apa yang dirasakan ibu selama ini.

“Lalu.. ayahku di mana sekarang, bu?”, tanyaku memberanikan diri.

“Itu ayahmu, yang selalu kau lihat memakan pisang, memilihnya kembali, lalu pergi!”.


Karawaci, 2014

3 comments:

  1. GILA! Gue bener2 menikmati setiap katanya. (Kata loh..bukan kalimat..)
    Tulisan ini bikin gue seperti menelanjangi kemolekan pisang2 itu di alam imajinasi gue.
    Gokil sya! Salam kenal ya.. :)

    ReplyDelete
  2. komentar di tanggal 3 September ini semua berasal dari orang yang sama 'secret admirer'

    ReplyDelete