Cerita Pendek
Cinta itu seperti Pisang dan Monyet. Kau akan
tahu apa maksud dua kata itu nantinya.
***
Di bawah pohon yang rindang, di temani secangkir
kopi, aku melihat sosok laki–laki menggenggam sebuah pisang. Ia mulai mengupas kulit pisang itu satu persatu. Matanya melotot menatap daging
pisang yang mulai terlihat. Semakin penasaran, ia melanjutkan
kupasan kedua dan seterusnya hingga pada kupasan terakhir. Wajahnya tersenyum
sinis bersama lidahnya yang tak sabar untuk menjilat. Kedua tangannya mulai meraba
daging pisang itu. Melihat warnanya, bentuk yang berliku, hingga menikmati rasa
klimaks. “Ah... lega....”, katanya. Kemudian ia meninggalkan
kulit pisang itu di tempat duduknya, lalu pergi.
Pagi ini, aku melihat ia kembali memilih pisang.
Tangannya ligat sekali. Meraba satu persatu pisang yang digantung rapih. Banyak
jenis dan bentuk yang ia lihat. Tapi hanya satu pisang yang dipilihnya. Yakni; kulit mulus, daging tebal, dan berliku sempurna. Lantas, ia membawa pulang
pisang itu untuk menjadi santapannya kembali. Seperti biasa, kulitnya di buang begitu saja. Lalu pergi.
Aku menoleh ke arah sisa pisang yang masih
digantung rapih. Ku dengar seperti ada suara tangisan yang mengiang di kupingku.
Mereka ingin berontak, namun tak bisa. Selalu termakan omongan manis lelaki
itu. “Sudah dipegang, ditinggalkan lagi. Hanya pasrah menunggu di pilih karena
ikhlas atau di pungut karena kasihan”, katanya.
Lekasku pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku
ternganga melihat ibu sibuk membersihkan pisang di dapur. Di balik punggung ibu, ku perhatikan tangan ibu yang gemulai membersihkan pisang itu. Badannya yang seksi mengingatkanku pada
pilihan lelaki tadi. Ah lucu. Dasar laki-laki, maunya yang sempurna.
“Kenapa pisangnya gak dimakan, bu?”, kataku membisik.
Ibu pun terkejut mendengar suaraku dari arah belakang punggungnya. Ia hanya terdiam dan langsung membalikan tubuhnya ke arahku lalu mengusap rambutku satu persatu. Tak lama, ibu mengajakku duduk bersama di ruang tamu yang hanya berukuran tiga kali tiga meter. Sementara, pisang itu diletakkan begitu saja di dapur, tersusun rapih.
Ruangan begitu sunyi, hanya terdengar detak jarum jam yang berbunyi konstan. Kutatap bibir ibu yang tipis mulai sedikit gemetar. Matanya yang tajam mulai berbinar. Sudah tiga puluh menit aku menunggu. Tapi ibu belum juga menjawab.
“Bu..”, kataku mencairkan suasana yang sedikit tegang.
Ibu pun terkejut mendengar suaraku dari arah belakang punggungnya. Ia hanya terdiam dan langsung membalikan tubuhnya ke arahku lalu mengusap rambutku satu persatu. Tak lama, ibu mengajakku duduk bersama di ruang tamu yang hanya berukuran tiga kali tiga meter. Sementara, pisang itu diletakkan begitu saja di dapur, tersusun rapih.
Ruangan begitu sunyi, hanya terdengar detak jarum jam yang berbunyi konstan. Kutatap bibir ibu yang tipis mulai sedikit gemetar. Matanya yang tajam mulai berbinar. Sudah tiga puluh menit aku menunggu. Tapi ibu belum juga menjawab.
“Bu..”, kataku mencairkan suasana yang sedikit tegang.
“Kenapa kamu gak ambil pisang yang ibu rapihkan tadi, nak?”, ibu pun membuka suara. Sepertinya ibu paham dengan pikiranku saat ini. Pikiran anak kecil yang hanya bisa bertanya dan membutuhkan jawaban. Aku pun menggelengkan kepala sambil tersenyum kaku menatap wajah ibu yang begitu datar. Ingin rasanya aku berlari dari hadapan ibu. Tak ingin ditanya. Hanya butuh jawaban, atas pertanyaan yang ada di benakku saat ini.
“Coba kamu perhatikan pisang itu, nak. Pisang itu banyak jenis dan bentuknya. Semua orang bisa
menikmatinya. Tinggal kulitnya dibuka, lalu dagingnya di makan. Tapi
sungguh disayangkan, hanya bisa sekali dirasakan. Harus mencari pisang yang baru untuk
menjadi santapan berikutnya. Seperti habis
manis sepah dibuang”, ucap ibu kepadaku.
"Ibu gak ingin kamu seperti pisang. Bahkan, rela melecehkan pisang lain hanya
untuk jadi santapannya. Ingat! tubuhmu indah bukan untuk jadi santapan bagi para monyet. Kamu harus bisa jaga diri. Mana ada monyet yang gak suka dikasih pisang, nak!”, lanjut ibu dengan suara yang tegas dan matanya melotot ke arahku.
“Lalu, kenapa ibu tidak memakan pisang itu?”, tanyaku kembali.
Ibu pun menundukan kepalanya mendengar pertanyaan yang barusan kulontarkan. Wajah ibu semakin memerah. Seakan ada sesuatu yang ibu kubur dalam-dalam.
"Jika
ibu memakannya, sama saja melecehkan diri sendiri”, tungkas ibu.
Kini, ibu tak bisa lagi menahan air
matanya. Suaranya mulai tersendak. Merintih menahan batin yang
selama ini terpendam. Segera aku memeluk ibu. Membalut ciuman dipipinya yang
basah akan air mata. Suara tangisan ibu
semakin keras hingga mengisi ruangan kami berdua.
“Ibu kenapa?”, tanyaku dengan suara yang juga ikut merintih karena tak kuat mendengar tangisan ibu yang semakin mengeras.
“Ibu hanya teringat dengan sosok ayahmu.
Tapi entahlah, semua hanya menjadi angan semata. Wajahnya yang rupawan hanya
sebatas lukisan saja. Indah untuk di pandang, tapi sulit untuk menebak. Hanya si pelukis atau sesama pelukisnya saja yang tahu. Tapi bagaimanapun itu ayahmu, nak. Kamu tidak boleh membenci ayahmu sendiri. Ia tetap menjadi ayahmu. Menjadi masa depan kamu saat kamu akan menikah nanti”, sahut ibu mendekapku kencang seolah tak ingin aku merasakan apa yang dirasakan ibu selama ini.
“Lalu..
ayahku di mana sekarang, bu?”, tanyaku memberanikan diri.
“Itu ayahmu, yang selalu kau lihat memakan pisang,
memilihnya kembali, lalu pergi!”.
Karawaci, 2014
Nice...
ReplyDeleteGILA! Gue bener2 menikmati setiap katanya. (Kata loh..bukan kalimat..)
ReplyDeleteTulisan ini bikin gue seperti menelanjangi kemolekan pisang2 itu di alam imajinasi gue.
Gokil sya! Salam kenal ya.. :)
komentar di tanggal 3 September ini semua berasal dari orang yang sama 'secret admirer'
ReplyDelete